Wednesday, 19 September 2018

cerita hajiku : hari-hari ibadah inti haji

Tarwiyah dan Muzdalifah
Dan tibalah saat puncak ibadah haji. Dini hari bangun untuk tahajud, mengaji, sholat subuh berjamaah, pengajian, sarapan, lalu kita sudah siap-siap mandi ihram, lalu sholat sunnah ihrom, sholat dhuha, mengaji sendiri dan bersiap menunggu pengumuman selanjutnya. Kita berangkat naik bus dalam kondisi berihram dengan membawa travel bag sesuai kelompok rombongan masing-masing menuju Mina untuk tarwiyah. Semuanya mulai berniat haji dalam pakaian ihram dipandu oleh ustadz. Sampai di Mina berjalan kaki ke maktab 113, menaruh travel bag masing-masing.



Terasa betapa sumpek dan panasnya tenda di maktab itu, walaupun tendanya sudah dilengkapi AC tapi memang suhu mencapai 45 derajat dan tenda diisi dengan 400an orang dengan luasan 1m x 1,8m tiap orang untuk duduk sekaligus tidur, baru benar-benar berasa panasnya. Sholat dilakukan dengan cara dijamak qoshor sesuai arahan ustadz karena kondisinya memang berat banget, karena sholatnya di atas busa sempit, wudhunya juga hanya diusap dibasahi dengan aqua di tempat masing-masing. tidak perlu kuatir basah karena dalam 10 menit langsung kering lagi saking panasnya hawa.



Dalam duduk setengah bersandar dan sempit banget dalam tenda itu kita melantunkan doa-doa, mengaji, berdzikir, sholat, makan dan segala macam lainnya sampai dengan isya. Sambil terbayang nanti setelah wukuf kita akan habiskan 4 hari 3 malam di tenda itu lagi dalam kondisi panas dan sempit. Di dalam tarwiyah itu aku benar-benar bermunajat, memohon ampunan atas segala dosa-dosaku yang sedemikian banyaknya, mohon dijauhkan dari siksa kubur dan api neraka, mohon diberikan kelancaran, kesehatan dan kemudahan dalam menjalankan ibadah haji ini, serta berbagai doa dan permohonan lainnya yang kupanjatkan baik buatku, buat orangtuaku, buat suami dan anak-anakku, doa titipan dari teman2ku dan doa buat semua muslim dan muslimah di dunia ini. Air mata mengalir di sela-sela berbagai doa dan permohonanku, serta permohonan ampunan ini. aku benar-benar merasa kecil dan tak berdaya. Sementara itu cuaca super panas dan pengap dalam tenda ini, membuatku dalam pakaian ihram yang super rapat ini makin berasa tak berdaya saking panas dan pengapnya. Kipas angin kecil (mini fan) dan spray isi air zamzam sangat membantuku dalam hal ini, berdoa khusyuk dengan tangan kiri bergantian menyemprot spray ke muka dan mengarahkan mini fan ke muka untuk mengurangi hawa super panas ini.


Kita sholat lagi maghrib dan isya dalam kondisi jamak dan qoshor karena kondisi di tenda. Dan selepas maghrib terjadilah badai pasir selama 2 jam. itu benar-benar pengalaman tak terlupakan karena tenda terguncang-guncang, pasir berhamburan masuk, lalu bagian besi-besi penyangga atas tenda mulai berjatuhan, atap tenda terhempas sana-sini, dan beberapa kali bergemuruh bergoyang sangat kencang. Di tenda bapak-bapak bahkan AC ada yang copot dan pintu tenda copot. 



Aku benar-benar ketakutan, begitu pula ibu-ibu lainnya dalam tenda ini. semuanya tiarap, istighfar dan mohon keselamatan. Hampir semuanya menangis dan berpelukan saling menguatkan. Bahkan aku sudah pasrah mungkin inilah saat terakhirku. Tapi aku merasa amat ikhlas karena sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk anak2ku, dan aku berada di sini untuk beribadah haji. di situ juga dikabari bahwa di arafah hujan badai lebat, padahal saat itu puncak musim panas.

Dari sebelum maghrib hingga kira-kira jam 9 lepas isya itu akhirnya badai pasir berangsur-angsur reda. Kami semuanya mengucapkan syukur tak terhingga. Ustadz menyampaikan agar kita bersiap-siap jam 11 malam menginggalkan mina untuk mabit di muzdalifah dan lanjut ke arafah untuk wukuf sampai besok malam. Travel bag agar ditinggalkan untuk keperluan di mina sepulang dari arafah.

Kita menaiki bus dengan berbekal tas punggung berisi Al Quran, buku doa, atasan mukena dan sajadah lipat tipis, 1 set baju ganti untuk jaga-jaga jika terkena najis. Aku membawa bekal mini fan dan spray untuk hawa panas serta alas kain pantai untuk alas nanti pas wukuf.

Perjalanan dari mina ke muzdalifah lanjut ke arafah sebetulnya ditempuh tidak kurang dari 30-45 menit di hari biasa. tapi berhubung kepadatan musim haji, perjalanan bisa berjam-jam ditempuh. Dari keberangkatan jam 11 malam, bus baru sampai di arafah jam 3.30 pagi. entah nyasar kemana bus kita karena padat dan juga arus dialihkan oleh pemerintah setempat. Kita mabit sebentar di muzdalifah, dan lanjut ke arafah setelah melewati malam. Selama itu pula sampai dengan selesainya wukuf di arafah kita masih harus tetap dalam kondisi berihram dengan berbagai larangannya.

Wukuf di Arafah
Sampai di arafah kita jalan kaki menunju tenda arafah yang dibagi menjadi tenda pria dan wanita tiap travelnya. Tendanya cukup besar, lega dan dingin tidak seperti di Mina. Sampai di sana, sholat tahajud dan mengaji, lalu sholat subuh dan istirahat sampai dengan saatnya tenda wanita dipakai untuk wukuf bersama-sama semuanya, mulai sebelum dzuhur. Dan disitulah AC mulai tidak berasa karena saking panasnya dan penuhnya jamaah, sekitar 700 jamaah dipaksakan masuk dalam 1 tenda. Bahkan untuk berdiri sholat saja perjuangan banget.

Aku benar-benar merasa kekhusyukan yang teramat sangat di waktu wukuf itu walaupun kondisi cuaca super panas dalam tenda yang penuh dengan jemaah ini, dan AC mati 2x selama beberapa waktu. dari mulai setelah dzuhur sampai dengan maghrib waktu wukuf yang sangat berharga dan menjadi inti dan wajib haji ini. Dalam waktu yang sangat berharga dan singkat itu Allah dan beserta ribuan malaikat turun ke bumi arafah ini untuk mendengarkan semua permohonan ampunan dan doa-doa kita. Di saat itulah Allah membanggakan manusia yang sedang berwukuf di arafah dalam ihramnya di hadapan malaikat. Dalam kondisi manusia yang sedemikian kumalnya dalam kain ihram berhari-hari, tapi justru di saat itulah Allah membanggakan manusia di hadapan para makaikat, bagaimana manusia dalam ketakwaaan dan kepatuhannya.

Di saat mulainya wukuf itu di saat adzan dzuhur dan mulainya khutbah wukuf, semua jamaah haji termasuk yang sakit keras dan dalam kondisi sakratul maut harus dibawa ke padang arafah ini demi waktu yang sangat berharga selama wukuf itu, oleh karena itu bunyi sirine ambulans silih berganti dengan deru helikopter di atas padang arafah membawa jamaah-jamaah dalam kondisi kritis tersebut agar bisa berwukuf walaupun dari udara dan dari ambulans.


Selama wukuf itu pulalah tak hentinya aku berdoa, memohon ampunan atas segala dosa-dosaku dan dosa orangtua, suami dan anak2ku, mohon dijauhkan dari siksa kubur dan api neraka, mohon dapat dikumpukan di surga bersama orang-orang yang sholeh dan sholehah, mengucapkan berbagai doa dan permohonan untuk diriku sendiri, untuk orang tua, untuk suami, anak-anak dan saudara2, berbagai titipan doa dari teman2 dan kerabat, mendoakan semua umat muslim di dunia dan umat yang sedang berhaji, berdzikir, mengaji, sholat dan berbagai ibadah lainnya. air mata tak henti2nya mengalir memohon ampunan dan memanjatkan doa. di jam-jam berikutnya, aku dan mr.hubby khusyuk berdoa berdua bersama, suamiku berdoa memanjatkan permohonan, aku mengamini, doa untuk kita berdua agar dikaruniai rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rohmah, saling setia dan saling mencintai hingga akhir hayat kita, menjadi jodoh dunia dan akhirat, dihindarkan dari perbuatan dosa dan tercela, doa untuk keberhasilan studi dan masa depan anak-anak kita, doa untuk orang tua kita, kelancaran pekerjaan dan rizki kita berdua, kelancaran berbagai urusan di dunia, dan keselamatan di dunia dan akhirat.


Di akhir waktu wukuf itu kita dikumpulkan oleh ustadz di tanah lapang, sekali lagi berdoa bersama memohon ampunan dan keselamatan dunia dan akhirat, lalu berdoa lagi sendiri dan berdua suami hingga waktu wukuf berakhir dengan sholat maghrib berjamaah. Setelah makan malam yang lagi-lagi aku cuma bisa mengambil beberapa suap dari piring mr.hubby, kita berkemas dan meninggalkan tanah arafah. Tanah arafah yang menjadi tanah istimewa di saat wukuf setahun sekali, kembali tanah biasa saja seperti tanah lainnya.



Thawaf Ifadhah
Kita kembali ke apartemen dulu dan belum boleh lepas ihram. Rasanya nikmat sekali tiba di apartemen yang kamarnya dingin secara di Mina dan Arafah sedemikian panasnya, walaupun harus menghadapi lagi teman2 khususnya mbak hani dan bu tiwi yang nggak akur itu.

Setelah istirahat sejenak, kita sudah langsung diminta untuk siap-siap thawaf ifadhah yang harus selesai sebelum sholat subuh. Kita berangkat sekitar jam 3 pagi ke masjidil haram, melakukan thawaf ifadhah di tengah kepadatan jamaah, shalat sunnah thawaf dan dilanjutkan dengan sai. Pada saat sai itulah masuk waktu subuh, dimana di putaran ke 5 kita selingi sholat subuh dulu, lalu lanjut lagi sai 2 putaran sisanya. Itulah pertama kalinya kita sholat subuh di masjidil haram. Kelar subuhan dan sai kita sudah harus segera keluar karena masjidil haram ditutup untuk sholat Idul Adha. 



Kita terpaksa mencari-cari pintu keluar karena hampir semua pintu sudah ditutup. Sampai akhirnya bisa keluar dan kita mulai berjalan kaki mencari terminal terdekat karena jalanan ditutup sehingga bus travel tidak bisa masuk.

Kita naik bus khusus angkutan haji dari pemerintah arab, tiba di suatu terminal dimana bus travel sudah menunggu. Sampai di apartemen rasanya lega banget karena sudah bisa tahalul akhir dan melepas ihram. Mr hubby dan rombongan bapak2 saling bercukur gundul sampai kelar sekitar jam 10 pagi, lalu kembali ke kamar untuk melepas ihram dan mandi-mandi.


Lempar Jumrah dan Hari-hari di Tenda Mina
Sore itu juga kita sudah harus kembali ke Mina untuk melempar jumrah dan tinggal selama 4 hari 3 malam di tenda Mina. Lagi-lagi kita harus berjalan kaki lumayan jauh dari tempat turunnya bus ke maktab, dilanjutkan ke tempat lempar jumrah dan balik lagi ke maktab tenda. Alhasil dari hitungan kilometer hp-ku, total sehari itu kita berjalan kaki sejauh 16km mulai dari thawaf, sai, perjalanan ke terminal bus, jalan dari bus ke maktab, jalan ke jamarat dan balik lagi ke maktab. Tapi Alhamdulillah semua berjalan lancar dan tidak terasa capek.



Kelar lempar jumrah jam 5.30 itu, kita istirahat ke tenda. Suasana tenda penuh sesak oleh barang-barang dan kasur busa. Kita harus menyelesaikan urusan toilet juga yang kotor dan antrinya banget2. Dalam 1 maktab yang terdiri dari 2500 jemaah hanya tersedia sekitar 20 toilet wanita dan 20 toilet pria. Tapi semua harus diterima dengan lapang dada dan bersabar. Dan semua itu harus dijalani selama 4 hari 3 malam.

Aku menyiasati urusan toilet itu dengan cara setelah subuhan begitu salam selesai langsung lari ke toilet, karena biasanya belum terlalu rame secara orang2 masih lanjut berdoa. Aku cuma mandi sekali di waktu abis subuh itu, lalu malam hari sepulang jumroh langsung buru-buru ke toilet untuk membersihkan diri pakai washlap disposable dan mengganti dalaman gamis, di saat orang-orang masih kecapekan begitu sampai ke tenda. Gamisku hanya ganti sehari sekali di pagi hari setelah mandi, sedangkan malam hanya ganti dalaman. Untuk celana dalam aku pakai yang disposable panties sekali pakai. Disposable panties ini berguna bangetttt, cari yang ukurannya benar2 nyaman dan belinya di apotik ternama misal guardian, century, Watson jadi kualitasnya bagus. pastikan sebelum beli 2-3 lusin, coba beli dulu sedikit trus dicobain untuk memastikan benar2 enak dipake.

Selama 4 hari 3 malam itu kita lempar jumroh sesuai jadwal yang diberikan oleh pemerintah arab melalui travel. Jangan coba2 berinisiatif jalan sendiri karena risikonya gede. Pernah kita pagi2 berdua coba jalan ke depan maktab liat2 siapa tau bisa jalan sendiri, ehh ternyata ruamenya luar biasa rombongan dari berbagai negara yang bodinya gede-gede banget, yang berkulit hitam dll dan semuanya sangat serba terburu2 dan gerudukan jalannya. Kita langsung mlipir balik masuk ke maktab. Ngeri banget kalo nanti terjadi apa2. Jadwal dari travel sih selalu malam hari sesudah maghrib atau isya.

Selama di mina memang banyak sekali keluhan dari para jamaah mengingat semuanya serba terbatas. Satu tenda travel yang perempuan diisi oleh 400an jamaah, jadi tiap orang cuma dapat jatah sekitar 1m x 1,8m untuk diri sendiri duduk sekaligus sholat sekaligus tidur, itupun masih diisi travel bag di kaki. trus makan harus antri. Tapi urusan makan buatku bukan masalah karena aku memang nggak selera makan, jadi cuma nowel2 dikit di piring temen ditambahin abon yang kubawa, atau makan pir 1 biji itupun biasanya nggak abis. Urusan toilet yang PR banget karena jumlahnya sangat terbatas untuk 1 maktab yang berisi ribuan jemaah, di samping kotornya minta ampun. Oya air yang keluar juga puanas banget karena suhu di mina mencapai 45 derajat. Jadinya aku mengakali urusan air ini dengan menampung 2-3 botol air keran yang panas itu di tempat wudhu ke dalam botol aqua bekas, nanti dipake untuk cuci muka atau basuh pipis atau wudhu di waktu berikutnya, dimana air panasnya udah rada ademan karena udah beberapa jam yang lalu disimpen. Aku juga nggak memaksakan diri untuk wudhu antri di tempat wudhu karena antri banget dan airnya panas banget, tapi melipir wudhu di ujung tempat wudhu yang sepi dengan menggunakan air di botol bekas aqua yang udah ademan airnya, begitu pula buat cuci muka.

Tapi so far untuk di Mina Alhamdulillah aku masih enjoy2 aja di saat teman2 berkeluh kesah, apalagi membanding2kan dengan travel2 lain yang plus plus banget, sedangkan travel kita plus yang standar banget. Travel lain mengambil nafar awal dimana dalam 2-3 hari udah selesai lempar jumrohnya, sedangkan kita diputuskan nafar tsani jadinya diperpanjang waktunya hingga 4 hari dimana waktu berpanas2an di tenda bertambah lagi. salah satu pertimbangannya karena jumlah peserta dari travel kita mencapai 700 orang, jadi diminta untuk keluar terakhir di saat yang lainnya udah bubaran. Belum lagi travel yang plus plus banget itu bahkan tidak sampai menginap di tenda, melainkan menunggu di tenda sampai lewat jam 12 malam trus balik ke hotel atau apartemen, lalu besoknya datang lagi dan seterusnya. Jadi mereka nggak mengalami stay di tenda yang super panas, makanan yang antri panas2an dan toilet yang minim, super antri dan kotor.

Tapi lagi2 aku juga berpikir bahwa aku bisa sampai di sini aja udah Alhamdulillah banget. Selain itu  juga aku udah biasa bergembel-ria traveling kesana kemari dengan biaya yang super irit dan akomodasi transportasi yang pas2an, juga jalan kaki jauh kesana kemari selama traveling demi menghemat.  Jadi buatku selama haji ini menurutku semuanya baik2 aja, enjoy aja, yang penting khusyuk, sehat dan lancar sesuai jadwal.

Dan berakhirlah puncak ibadah haji itu dengan selesainya lempar jumroh terakhir kita di nafar tsani.

Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar. Di jumroh terakhir itu kita berdua dititipin badal jumroh oleh bu tiwi dan suaminya yang berhalangan karena sakit, sekaligus mereka trauma karena ramenya jumroh kemarin mereka hampir terpental. Oya aku melempar jumroh juga dengan sekuat tenaga sebagai representasi rasa kesel terhadap para setan yang telah mengganggu manusia, khususnya aku.

Malam terakhir itu kita keluar dari area maktab di mina dan kembali ke apartemen. Alhamdulillah kita semua diberikan kekuatan, kemudahan dan kelancaran dalam menjalankan puncah ibadah haji. Lega banget rasanya. kita bersiap untuk ibadah-ibadah selanjutnya...





cerita hajiku : keberangkatan, umroh pertama dan apartemen transit

Hari Keberangkatan
Hari keberangkatan dilalui dari sebelum subuh sudah harus berangkat ke gedung haji milik travel biro kita. Sebelumnya kita bangun jam 3, sholat tahajud, mandi ihram dulu dilanjutkan sholat sunnah ihram.

Mertua sejak semalam datang untuk menemani anak2 sampai esok hari, karena mereka harus segera ke jogja. Kita memeluk anak-anak dengan menahan tangis, karena tidak tau apakah kita bakal bisa kembali atau tidak. Yang jelas kita sudah mempersiapkan segala sesuatunya buat mereka, termasuk penunjukkan wali.

Kita berangkat sudah berpakaian ihram yang dilapisi dengan baju batik haji indonesia, karena rencananya nanti di pesawat pada saat melewati yalamlam akan mulai berniat ihram.

Di gedung haji kita sholat subuh bareng, lalu sarapan, pembagian buku panduan dan naik ke bus menuju terminal 3 soetta. Di bus dibagikan dokumen-dokumen antara lain kalung nametag, gelang logam identitas yang harus dipakai sampai selesainya haji, paspor dan visa haji, buku kesehatan, dan gelang plastik maktab untuk dipakai nanti pas di mina. Di bus itu sudah dibagi-bagi berdasarkan kelompok haji.



Pesawat berangkat pukul 12 siang. Di pesawat kita sholat dengan bertayamum, lalu aku perbanyak mengaji dengan Al Quran kecil yang kubawa. Perjalanan sekitar 9 jam sampai di Jeddah. Kira-kira setengah jam sebelum mendarat diumumkan bahwa kita mendekati yalamlam sehingga siap untuk berniat umroh. Bapak2 sebelumnya sudah mulai melepas baju batiknya dan memakai lengkap ihramnya, sedangkan ibu-ibu sejak awal memang sudah berpakaian ihram. Lalu pak ustadz mulai mengomandoi untuk mengucapkan niat umroh dulu.

Sampai di Jeddah kita udah bersiap diri sekiranya imigrasi bakalan lama berjam-jam seperti tahun-tahun sebelumnya, bahkan tahun lalu mertuaku naik haji cerita harus menunggu dari jam 6 sore hingga jam 3-4 pagi baru kelar imigrasinya. Tapi subhanallah, ternyata lancar banget imigrasinya. Bahkan aku ada di urutan pertama antrian imigrasi dan langsung selesai nggak sampai 10 menit. kekuatiranku bahwa finger scan sidik jariku yang selalu bermasalah selama ini bakal menghambat dan juga fotoku di paspor yang masih belum memakai hijab karena pasporku dibuat sekitar 2 tahun sebelumnya, bakal jadi masalah, ternyata lancar banget, bahkan teramat cepat. Alhamdulillah.

Selanjutnya antrian koper masih wajar karena dimana-mana koper memang selalu mengantri. Yang penting kopernya ketemu dan aman. Antrian koper ini tidak ada apa2nya dibanding kita pernah jalan ke Turki antri berjam2 koper dan nyasar kopernya. Lalu selanjutnya menunggu bus yang akan membawa kita ke apartemen transit. Menunggu bus kira-kira dari maghrib sampai isya, jadi kita selingi dulu dengan sholat. Kelar sholat isya, bus kitapun jalan.



Selama ini travel selalu mengingatkan bahwa kita siap-siap aja dengan pahit-pahitnya perjalanan haji, misal imigrasi lama, bus bisa berjam2, urusan wajib lapor bisa lama banget dll jadi semuanya harus siap mental. Tapi Alhamdulillah bus juga berjalan lancar, kira-kira sejam sudah sampai apartemen, itupun diselingi dengan wajib lapor ke posko pemerintah arab. Di situ paspor diperiksa dan dikumpulkan, jadi identitas kita hanyalah gelang logam haji dan kalung nametag, serta nanti gelang plastik untuk maktab di mina.

Sampai di apartemen sekitar jam 10 malam, barulah dibagi-bagi teman sekamar. Di situlah dibagi sekamar berlima, dengan suami masing-masing ada di kamar sebelah, mereka sekamar berenam dimana salah satunya ada anak berusia 19 tahun naik haji karena ortunya udah berangkat 2 tahun lalu dan ybs ditunda berangkatnya karena belum cukup umur waktu itu.

Hari Umroh Pertama
Pada saat di apartemen itu kita menunggu info apakah langsung umroh malam itu juga karena kita masih dalam kondisi berihram. Tapi ternyata travel menyatakan umrohnya besok pagi jam 8 pagi, semua jamaah diminta untuk beristirahat dulu tanpa melepas umroh. Semua diingatkan tentang larangan umroh dan diminta tidak melanggarnya. Kita masuk kamar berlima, beberes koper dan istirahat tidur dalam kondisi berihram. Jadi tidurpun pakai mukena pendek, tidak boleh terlihat rambut dan aurat manapun bahkan untuk sesama wanita. Kecuali sendirian di kamar mandi.

Malam jam 3 bangun, sholat tahajud lanjut mengaji sambil menunggu subuh. Kelar subuh masih tetap berihram, lanjut sarapan dan siap2 untuk berangkat umroh naik bus. kitapun naik bus menuju masjidil haram.



Aku merasa deg-degan banget karena itu pertama kalinya aku menginjakkan kaki ke masjidil haram dan aku merasa sangat kotor sebagai manusia karena sedemikian banyaknya dosaku. Di situ pulalah thawafku pertama kalinya, aku menangis dan menangis dalam setiap langkah thawafku, mohon ampunan atas segala dosa-dosaku, menangis bahwasanya aku akhirnya bisa sampai ke tanah suci memandang baitullah, menangis bahwasanya Allah begitu baiknya karena manusia pendosa seperti aku ini masih diijinkan menghadap baitullah, sampai 7x putaran tak hentinya aku menangis sambil berdoa dan memohon ampun, sampai selesainya thawaf dan kita sholat sunnah thawaf di belakang maqam ibraham, lagi-lagi aku menangis, air mata menetes deras tak terbendung di sepanjang sholatku dan doa2ku di sana.

Jamaah selama thawaf juga padat sekali dan matahari sangat panas dan terik. Berkali-kali aku menyemprotkan spray air ke mukaku karena kurasakan super panas dan sesak. aku bersyukur sekali bahwa mr.hubby selalu menggandengku di dalam desakan kerumunan kepadatan thawaf. Dengan fisikku yang kecil dan ringkih ini, aku selalu berdoa mohon keselamatan, kekuatan, kesehatan, kemudahan dan kelancaran selama menunaikan ibadah haji ini, dan Alhamdulillah thawaf berjalan lancar.

Setelah thawaf dilanjutkan dengan sai 7 kali juga. sebelum sai kita minum air zamzam dingin yang menyegarkan di samping tempat sai dimulai. Ustadz pembimbing menyarankan minum 2 gelas ditambahkan dengan mengisi botol air minum kosong dan botol spray muka untuk keperluan selanjutnya. Sebetulnya aku paling suka dengan sai ini biarpun lumayan jauh jalannya 7x, tapi lantainya adem banget dan ACnya dingin, dan tingkat kepadatannya masih enak dibandingkan dengan thawaf. Kelar thawaf dilanjutkan dengan tahallul pertama di bukit Marwa di ujung sai. Cukup dipotong sedikit saja helaian rambut di balik kerudung mukena.




Alhamdulillah umroh pertama selesai jam 11an dari mulai jam 8.30 tadi, kitapun naik bus kembali ke apartemen.

Hari-hari di Apartemen Transit
Sehari-hari sebelum rangkaian puncak ibadah haji, kita tinggal di apartemen transit sekitar 4 hari. di sinilah jemaah disiapkan dengan sholat wajib berjamaan setiap harinya, dilanjutkan dengan tausyiah dan persiapan2. Jemaah tidak disarankan pergi ke Masjidil Haram mengingat lokasi apartemen yang lumayan jauh dan agar fisik dan mental diperkuat selama menunggu puncak ibadah haji.

Tiap hari kita bangun jam 3 pagi, sholat tahajud, doa dan dzikir, dilanjutkan dengan mengaji sendiri-sendiri di kamar, lalu turun ke musholla di basement apartment untuk sholat subuh dan pengajian atau tausyiah oleh ustadz. Setelah itu lanjut mandi-mandi, sarapan dan istirahat. bisa tidur, bisa beberes kamar dan cuci mencuci, baca2 buku manasik dan dzikir. Lalu turun untuk sholat dzuhur dan pengajian, lanjut makan siang, kembali ke kamar. Istirahat sore, turun lagi untuk sholat ashar dan pengajian, mengaji sendiri, lanjut sholat maghrib, pengajian, makan malam dan bersiap sholat isya. Demikian seterusnya sampai menjelang keberangkatan puncak ibadah haji.

Aku justru merasakan cobaan datangnya bukan terkait dengan ibadah karena ibadah Alhamdulillah dilancarkan, tapi cobaan justru datang dari teman- teman sekamar. Bagaimana kita berperilaku dalam kamar yang berisi 5 orang dengan asal usul, karakter dan kelakuan berbeda-beda. Aku orang jawa, mbak Lila dari madura, lalu mbak nina dari bugis, mbak hani blasteran banjar-arab-india, dan bu tiwi dari jawa juga. bagaimana kita semua berbeda2 dalam menampakkan diri di saat stress menghadapi puncak ibadah haji. 

Bu tiwi yang menurut hemat kita sebetulnya sakitnya lebih ke psikis tapi pakai kursi roda dan selalu mengeluh sakit ini itu dan selalu minta dilayani suaminya, lalu mbak lila yang stressnya ditunjukkan melalui ngomel panjang pendek, aku stressnya lebih ke diam dipendam dan nggak doyan makan, mbak nina stressnya disalurkan dengan pagi2 kabur jalan sama suaminya dan baru balik setelah malam banget, mbak hani stressnya dengan marah-marah frontal melawan bu tiwi. pokoknya aku banyak2 sabar aja berada di kamar berlima ini.

Sehari sebelum keberangkatan kita di-briefing persiapan. Kitapun bersiap2 dengan travel bag untuk dibawa ke mina. Yang dibawa cukup baju ihrom 1 stel selain yang dipakai, baju gamis 3-4 buah buat sehari-hari, mukena 1, sajadah kecil tipis lipat, kerudung dan mukena pendek untuk sehari2 selama 4 hari, baju dalam untuk 4 hari (kaos dalam, celana gombor untuk gamis, bawa celana dalam sekali pakai yang banyak untuk 4 hari), kaos kaki wudhu, alas kain pantai, rompi penanda travel untuk lempar jumroh, topi, masker, sepatu sandal dipakai, sandal jepit untuk urusan toilet, kipas angin kecil batere, spray muka isi air zamzam, peralatan mandi untuk mina, peralatan muka, tisu basah non parfum, tisu pack dll. jangan lupa Al Quran kecil, buku doa, tasbih. Semuanya dikemas untuk perjalanan 5 hari, yaitu setengah hari di mina, setengah malam di muzdalifah, sehari wukuf di arafah, dan 4 hari 3 malam di tenda mina.

Sebelum keberangkatan itu 1-2 hari sebelumnya kita dikuatkan dengan pengajian dan tausyiah, taubat bersama-sama, mohon ampunan, doa dan mengaji dengan bimbingan ustadz-ustadz. Intinya mohon ampunan, mohon diberi kemudahan dan kelancaran dalam menjalankan puncak ibadah haji yang sangat kritikal itu. Semoga semuanya berjalan dengan lancer.. aamiin YRA