Nggak nyangka aku akhirnya menyambut puasa dengan bertengkar besar dengan fikri. Padahal tadinya aku hepi banget karena dia ijin pulang seminggu ke Jakarta dari intershipnya di RS di pangkalpinang. Gimana nggak, tiba2 dia cerita udah 2 bulan jadian dengan cewek Bangka, tapi selisih usianya 8-9 tahun lebih tua. Ya Allah aku shock banget, nangis, marah dan nggak tau lagi menggambarkan gimana perasaanku.
Aku selalu wanti2 perihal jodoh ke fikri, dan kenapa harus kecolongan urusan pacar seperti ini. Aku benar2 nggak setuju dan nggak habis pikir gimana dia bisa kecantol dengan perempuan yang jauh lebih tua. Ini bukan perihal maxim dan luna karena mereka ini bule. Tapi fikri itu nggak kurang2nya dari sisi fisik maupun finansialnya, dokter pula. Kecuali kalo mokondo belia trus kecantol wanita 9 tahun lebih tua yang kaya raya misalnya.
Dari sisi suku sejujurnya kita juga prefer sesama orang jawa aja biar lebih mudah adaptasi kedua belah pihak dan meminimalisir drama. Tapi urusan suku ini menurutku masih bisa dibicarakanlah asal latar belakang keluarganya baik. Hanya saja perbedaan usia yang ekstrem ini bener2 membuatku stress. Menurutku jika cewek ini orang jawa, pastilah mikir seribu kali jadian sama cowok yang 9 tahun lebih muda karena berbagai pertimbangan. Mr hubby juga nggak setuju tapi dia tipenya yang nggak mau frontal.
Sepanjang malam aku nangis sesenggukan, lalu akhirnya bertiga suami dan fikri juga nangis bareng karena sama2 nggak terima. Tadinya aku masih berpikir untuk pelan2 karena bulan mei akhir fikri selesai internship akan balik ke Jakarta dan lambat laun akan menjauh, karena dari awal dia memang ingin kerja dulu trus berusaha keras untuk lanjut ambil spesialis.
Tapi kupikir2 lagi ini nggak boleh ditunda2 karena bisa bikin aku sakit dan drop karena kepikiran terus-menerus, aku akan memendam dan bisa berdampak buruk pada badan dan mentalku. Mumpung baru 2 bulan jadi belum banyak kenangannya, belum banyak nggak enaknya. Aku dulu putus setelah 4 tahun pacaran tuh rasanya nano nano banget saking banyaknya kenangan.
Akhirnya aku ultimatum fikri harus sesegera mungkin putus, karena dia juga masih belum bisa menghidupi diri sendiri, dimana nanti sekolah spesialis yang 5-7 tahun itu juga kita yang akan membiayai, apalagi mr hubby bulan juni besok pensiun, sehingga aku yang harus jadi tulang punggung sampai aku pensiun 4,5 tahun lagi.
Setelah bertangis2an bertiga karena sama2 frustrasi dan nggak terima kondisi, akhirnya sabtu pagi itu aku kabur dulu naik grab menenangkan diri. Sejak jumat malam penuh tangisan itu akhirnya karena kecapekan nangis aku bablas nggak bangun sahur. Aku pesan penginapan kecil di daerah gandaria untuk menepi. Kejadian yang sama dengan dulu waktu mr hubby bikin gara2 di tahun 2018, tapi waktu itu aku kabur ke penginapan di blok M. Tapi karena kali ini mr hubby tidak bersalah, aku masih kasih kabar waktu dia wa. Aku bilang jalan dulu trus lanjut latihan nari, sore jam 4 aku pulang. Abis itu kumatiin hp.
Padahal sabtu sore ini fikri terbang balik ke Bangka, tapi aku bener2 marah dan nggak mau liat dia. Di penginapan aku istirahat sebentar, lalu jam 10 aku ke salon buat cuci blow, trus ke cipete buat latihan menari. Tiba2 selma muncul disana karena disuruh bapaknya cek beneran nggak aku ada. Aku latihan sampe jam 2 trus ke gandaria city buat refleksi kaki.
Sore itu fikri wa bilang pamit dan minta maaf sudah bikin ortu sedih, dan janji akan fokus nanti bekerja di Jakarta dan menyiapkan diri untuk ujian spesialis. Tapi aku masih belum plong karena nggak ada indikasi gimana kelanjutan hubungannya. Akhirnya aku balas wa bahwa sampai kapanpun nggak setuju pilihannya, harus segera mutusin. Jika nggak juga putusin maka aku yang pergi dari rumah dan jangan cari ibunya lagi. Aku nangis lagi karena frustrasi.
Aku juga realisitis mikirin ceweknya, di usia 35 tahun ini sebagai cewek justru jangan buang2 waktu ngejabanin cowok usia 26 tahun yang masih harus selesaikan internship, harus lanjut kerja dulu 1-2 tahun, masih harus spesialis 5-7 tahun. Bayangin kalo lanjut, di usia 42-44 tahun dia baru married di saat yang cowok selesai spesialis. Sedangkan staf di kantor aja sampe putus, namanya putri usia 27 tahun disuruh nunggu cowoknya yang dokter baru kelar internship, masih mau kerja dan masih harus spesialis 5-7 tahun dan nggak guaranteed bakal dinikahi juga. Apalagi ini kalo ceweknya udah 35 tahun hadehh..
Akhirnya sabtu sore itu aku pulang dijemput mr hubby di gandaria city. Aku tanya mr hubby katanya tadi udah bicara banyak dan akan usahakan secepatnya menyelesaikan. Aku benar2 berharap segera normal, bagaimanapun ortu ingin yang terbaik untuk anaknya.
Kriteria kita juga nggak muluk2, pastinya agama harus sama, perbedaan usia 1-2 tahun lebih muda/tua atau sepantaran, pendidikan S1 dan harus bekerja, syukur2 sesama dokter supaya bisa saling support dan mengerti kesibukan masing2, suku jawa atau sekitarnya, latar belakang keluarga kecil harmonis, sekufu dari sisi pendidikan, finansial, cara pandang, syukur2 ortunya dokter yang memahami kesibukan anak2nya.
Kita bukan dokter tapi kita berdua berpendidikan dari UI dan UGM di S1 lanjut S2, suami istri bekerja dengan jenjang manajerial yang cukup baik, sangat concern dengan pendidikan anak2 kita, finansial alhamdulillah juga cukup, insya Allah anak2 sudah kita siapkan rumah dan kendaraan untuk modal hidup sebagaimana dulu ayahku memodaliku rumah, dan insya Allah kita juga sudah siapkan masa tua kita supaya tidak merepotkan anak2.
Karena itu kami pengen memastikan anak2 mendapatkan jodoh yang sekufu dan supportif terhadap karir masing2. Kita pengennya jodoh anak2 baik cowok maupun cewek harus berpendidikan baik dan bekerja atau berkarir, supaya selaras dan berkembang bersama nantinya ke depan. Penting juga usia jaraknya jangan kejauhan tuanya, apalagi kalo pihak perempuan yang jauh lebih tua.
Sejak saat kemarin aku harus benar2 mengawal dan memastikan bahwa fikri harus kerja dulu trus melanjutkan spesialis sampai lulus, dan jodohnya sepadan dengan dia. Kalo selma pacarnya kelihatannya cukup sepadan dan insya Allah dalam 1-2 tahun ke depan sudah ada kejelasan untuk menikah. Selma ini cowoknya sahabatnya jaman kuliah jadi sepantaran, sama2 bekerja dan ada sampingan studio arsitek bareng, lalu ortunya juga keluarga baik2, orang jawa yang ada campuran makassar dari pihak ibu, ayahnya pensiunan perusahaan asuransi yang kemudian mengurus bisnis kos2an dan ibunya auditor.
Ternyata menjadi ortu itu berat, dari mengandung, membesarkan, hingga mengantarkan mereka pada pendidikan, pekerjaan dan pernikahan yang aman. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan dan kelancaran anak2 kita untuk masa depannya. Aamiin YRA..