Thursday, 16 May 2013

karena jodoh itu nggak bisa ditebak...

lagi2 tentang perempuan.

sobatku, sebut aja mbak nana adalah istri dari pria jepang yang ganteng dengan jarak usia yang cukup jauh. mereka punya dua anak cowo cewe, hana dan kenzo yang cakep2. mbak nana seorang ibu rumah tangga yang mengabdikan dirinya sepenuhnya untuk kehidupan keluarga. keibuan buanget dan sangat telaten mengurus suami dan anak2nya.

kalo denger cerita mbak nana, aku tuh prihatiiin banget. dari luar memang keliatan perfect. tapi dalam kenyataannya berat banget karena beda budaya. yahh tau sendirilah pria jepang itu harga dirinya tinggi banget. kalo denger ceritanya, sang suami ini nggak pernah mau mengakui kesalahan dan pantang minta maaf. selalu menyalahkan mbak nana atas hal apapun. nggak pernah menghargai, nggak mau dengerin penjelasan. intinya apapun yang dilakukan mbak nana adalah salah.

yang lebih parah adalah anak2nya jadi ngelunjak karena ayahnya selalu memarahi ibunya di depan anak2, menyalah2kan dan memaki. anak2nya jadi nggak menghargai ibunya sama sekali. paling serem waktu hana yang nakal banget ini sengaja memancing2 kemarahan ibunya. begitu diingatkan dan dimarahi malah balik menantang "aku bilangin ayah biar ibu dimarahin ayah, biar tau rasa". astagfirullah...

aku bener2 nggak banget deh liat hana ini. dia seumuran selma tapi kelakuannya parah. sering kulihat dia sengaja cari2 masalah biar ibunya kasih perhatian. nggak jarang aku liat mbak nana nangis ngadepin hana. kalo liat dia, rasanya bersyukur banget punya selma yang baik dan mau dengerin ibunya.

aku juga prihatin liat kemampuan hana soalnya keliatan banget dari sisi akademis sangat kurang. konon nilainya banyak yang nol, dan rada aneh juga sekolah jepang itu nggak pake ulangan umum ya, jadi tiap tahun ya naik terus. ulangan hanya ada nanti kalo udah esempe.

repotnya di sisi pelajaran mbak nana nggak bisa berbuat banyak. maklum bahasa jepangnya terbatas, trus gimana coba cara ngajarin anaknya? kalo aku kan dengan enteng bisa ngajarin selma n fikri. alhasil suaminya nyalah2in karena sebagai ibu nggak bisa ngajarin anaknya. paling parah adalah ketika hana diingetin untuk belajar atau ditegur tentang nilai2nya malah balik menantang ibunya buat ngajarin karena tau kalo nggak bakal bisa. hadehhhh..... *()@#$*_(*$*&%)#

sekarang ini kondisi mbak nana bener2 merana. komunikasinya sama suami bener2 macet. suaminya kerja mengurus factory di karawang, tiap hari baru sampe rumah jam 11 malem, berangkatnya jam 6 pagi. sabtu juga masuk. di rumah nggak mau ngobrol. capek. begitu ngobrol yang ada berakhir dengan pertengkaran. hari minggu diwarnai pertengkaran karena urusan anak, yang selalu berakhir dengan kesalahan ditimpakan pada mbak nana yang dicap nggak becus ngurus anak.

mbak nana untungnya masih punya kesibukan. dia setahun yang lalu bikin usaha konveksi kecil2an di belakang rumah. menerima pesanan seragam sekolah misal playgroup, kaos2 acara kantor, seragam pabrik, seragam pameran, laboratorium dll. hasilnya lumayan, setidaknya mbak nana bisa sedikit melupakan kesedihannya. aku melihat mbak nana punya bakat bisnis, dia telaten banget ke customer, datang ke kantor2, memperhatikan semua kebutuhannya dengan detil, menjalin hubungan baik.

dia juga menyalurkan kesumpekannya lewat latihan menari jawa, bareng aku tiap jumat malem. di sela2 break latihan itu biasanya dia cerita, kadang sambil menahan tangis.

bolak-balik mbak nana bilang nggak kuat, tapi dia mikirin anak2nya. aku cuma bisa bilang banyak2 sabar. nikah sama sesama budayanya, sama2 orang jawa kayak aku n mr.hubby aja masih perlu banyak tenggang rasa, apalagi beda banget budayanya, beda frekuensinya.

aku bilang mulai sekarang harus lebih tegas sama anak. siapa lagi yang mendidik mereka, yang ngasih tau mana yang benar mana yang salah dan bagaimana harusnya bersikap pada ibu bapaknya, kalo bukan ibunya sendiri. trus bisnisnya itu harus ditekuni betul, jangan sampai ditinggalkan, karena di situlah dia bisa punya kekuatan dan menunjukkan eksistensinya. mudah2an dengan begitu suaminya tidak lagi meremehkan dia.

yahh jodoh itu nggak bisa ditebak, sudah ada yang mengatur. mbak nana nggak pernah menyangka berjodoh bukan sama pria lokal. dan kepribadian dari orang yang menjadi jodoh kita memang nggak bisa ditebak juga. biarpun udah lewat proses kenalan, pacaran, tetep aja bisa beda banget watak aslinya.

semoga mbak nana diberi banyak2 kesabaran dan kekuatan buat mengelola kehidupannya.. chaiyooo mbak..!











Friday, 10 May 2013

haru biru tak menentu...

lagi di jogja.
haru biru tak menentu.
libur merah hari kamis dan aku pengen banget pulang ke jogja.
udah cukup lama nggak nengokin ibu. aku pergi sendiri saja, jumat cuti, sabtu balik. tapi ternyata aku bukan sepenuhnya menengok ibu..

selasa kemarin baru dengar kalo kakak sepupuku meninggal setelah operasi tumor otak. dnan pagi ini dikejutkan kembali, pakdeku meninggal, ayah dari sepupuku tadi. tapi memang pakde sudah sepuh, 77 tahun dan memang sudah pikun, sakit tua.

sebagai anak bungsu seperti yang sudah pernah kutulis sebelumnya, aku terbilang nggak dekat dengan keluarga besar, apalagi lebih dari 12 tahun aku bekerja di jakarta. keluargaku juga sering berpindah2 pulau mengikuti ayahku dinas. alhasil memang kita jadi nggak begitu dekat dengan keluarga besar.

aku selalu nyesek jika berkunjung ke desa kecil di pedalaman purworejo ini, tempat asal ibuku. keluarga paklikku kehidupannya yang naik turun sedemikian drastis, saat ini bulik kena stroke dan sudah nggak bisa apa2 lagi. anak2nya yang dulu dimanjakan dan nggak pernah dididik mandiri, sekarang nggak bisa membantu orangtuanya. paklikku dulu pebisnis sukses, dan sekarang runtuh tak tersisa. kami saudara2nya membantu semampunya mengingat hidup paklik sekarang hanya untuk mengurus bulik yang stroke dan nggak bisa ditinggal sedikitpun itu..

hidup memang naik turun.
kini baru terasa bagaimana hasil didikan orangtua terhadap masa depan anaknya, seperti yang kulihat pada anak2 paklik bulikku.

bersyukur setidaknya didikan keras bapak membuat kami berempat menjadi cukup kuat. kami semua pekerja keras, baik kakak laki2ku maupun kami bertiga yang perempuan. kakak2ku semuanya workaholic dan nggak pernah mengeluh, hanya aku saja si bungsu ini yang terkadang malu, sudah diberikan kemudahan bekerja tapi slalu saja banyak mengeluh T_T..

kadang aku lelah, tapi ibuku selalu mengingatkan. ibuku selalu berpesan bahwa semua anak2 perempuannya harus bekerja, supaya punya bargaining power terhadap pasangannya. karena ibuku sendiri merasakan betapa bapakku sama sekali tidak menganggap ibu, bahkan lebih mendengar pendapat anak2nya ketimbang ibuku..

aku tau semuanya benar, karena akupun merasakannya. dan entah kenapa barangkali seperti berpihak pada ibuku, sekarang semua anak2 perempuan ibuku adalah breadwinner, alias pencari nafkah utama keluarga...

kembali haru biru.
aku terbangun dari pikiranku.
semoga saja kelak masa tuaku tak seperti paklik bulik itu.
karena itu aku harus tetap rajin bekerja dan menabung untuk masa tuaku supaya tak menyusahkan anak2ku
dan semoga anak2ku tak seperti mereka yang terlalu dimanja dan jadi tak bisa apa2
dan semoga saja di masa tua kesehatan tak bermasalah, bisa tetap berkarya beribadah beramal dan membantu sesama...
dan jika tiba waktunya aku ingin bisa menghadap tanpa membuat susah siapapun dan telah memberikan bekal yang cukup buat anak2ku mandiri dan tentunya bekal amal ibadah buatku sendiri...

kembali haru biru.
di sudut rumah tua kami, aku kembali pada duniaku kini..



-jogja, 10 mei 2013-